Apa Itu Obat Anti Peradangan?

Obat anti-inflamasi adalah obat yang digunakan untuk meredakan peradangan baik dari rheumatoid atau osteoarthritis tanpa memerlukan kortikosteroid. Obat anti-inflamasi salah satu contohnya adalah kortison, Cortidex dan Dexamethasone.

Kortison adalah kortikosteroid yang digunakan untuk mengobati peradangan dan radang sendi. Ini memblokir produksi zat dalam tubuh yang menyebabkan reaksi inflamasi. Cortidex adalah kortikosteroid lain yang berfungsi dengan cara yang sama seperti kortison, Dexamethasone adalah kandungan dari Cortidex yang merupakan obat anti-inflamasi dengan sifat pembunuh rasa sakit yang kuat akibat peradangan.

Anti-peradangan dapat digunakan secara oral (melalui mulut), dioleskan (pada kulit) atau disuntikkan ke dalam tubuh (intravena) tergantung pada bentuk sediaannya. Obat-obat tersebut biasanya digunakan secara jangka panjang untuk mengendalikan peradangan.

Misalnya, kortikosteroid digunakan untuk mengobati alergi, asma dan penyakit autoimun seperti multiple sclerosis dan rheumatoid arthritis. Mereka juga dapat diresepkan ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sendi atau organ (seperti pada lupus). Obat anti-inflamasi juga digunakan untuk mengobati sakit kepala migrain, osteoarthritis, dan pembengkakan di mulut yang disebabkan oleh infeksi seperti penyakit gusi.

Sebaliknya, kortikosteroid juga dapat digunakan untuk menekan kerja sistem kekebalan (sistem imun) pada pasien dengan penyakit autoimun dan kondisi lainnya. Dalam kasus ini kortison atau cortidex biasanya disuntikkan ke sendi yang sakit untuk menghilangkan rasa sakit dan pembengkakan yang disebabkan oleh peradangan. Ini dilakukan ketika obat antiinflamasi yang diminum tidak bekerja.

Penggunaan Cortidex

Cortidex adalah kortikosteroid yang digunakan untuk mengobati peradangan dan arthritis yang mengandung Dexamethasone. Ini memblokir produksi zat dalam tubuh yang menyebabkan reaksi inflamasi. Obat ini dapat digunakan secara oral (melalui mulut) atau dioleskan (pada kulit). Karena Cortidex secara alami diproduksi oleh kelenjar adrenal, Cortidex tidak boleh dikonsumsi oleh wanita hamil karena kortikosteroid dapat menyebabkan cacat lahir.

 

Dosis cortidex

Untuk pengobatan kortikosteroid yang berlangsung lebih lama dari beberapa minggu. Untuk kortikosteroid yang diminum, dosis oral Cortidex untuk dewasa 0,5 sampai 9 mg per hari dalam dosis terbagi, biasanya 0,02 sampai 0,3 mg/kg berat badan per hari dalam dosis terbagi. Jika Cortidex disuntikkan ke dalam tubuh seseorang secara intravena, biasanya antara 20 hingga 80 mg setiap beberapa hari. Penting bahwa kortikosteroid diminum pada waktu yang sama, setiap hari.

 

Efek samping Cortidex

Karena Cortidex secara alami diproduksi oleh kelenjar adrenal, Cortidex tidak boleh dikonsumsi oleh wanita hamil karena kortikosteroid dapat menyebabkan cacat lahir. Efek samping lainnya termasuk sindrom Cushing, yang menyebabkan wajah bulat, perut gemuk dan lengan atau kaki kurus. Reaksi merugikan terhadap Cortidex biasanya ringan seperti ruam kulit, ruam gatal, mual, muntah, sakit kepala, sakit perut. Sementara efek samping yang lebih serius mungkin termasuk nyeri tulang, sendi dan otot dan sendi, peningkatan berat badan akibat nafsu makan meningkat, serta gangguan penglihatan.

 

Harga cortidex

Cortidex tersedia di apotek dan harga cortidex dapat bervariasi. Kortikosteroid resep biasanya berharga antara 4000 hingga 7000 rupiah tergantung apotek tempat Anda membeli obat. Kortikosteroid suntik, seperti cortidex, biasanya lebih mahal. Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang Cortidex, Anda dapat menggunakan internet untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

 

Kontraindikasi Cortidex

Kortikosteroid dikontraindikasikan pada pasien dengan infeksi aktif, tuberkulosis, penyakit jantung, osteoporosis, diabetes mellitus, hipertensi, dan gangguan pembekuan darah. Penggunaan kortikosteroid juga tidak dianjurkan untuk ibu hamil. Bayi dan pasien dengan masalah sistem kekebalan dapat sangat sensitif terhadap Cortidex sementara wanita menyusui yang menggunakan Cortidex dapat menularkan obat ke bayi mereka melalui ASI.